Frequently Asked Questions

Temukan jawaban untuk pertanyaan umum seputar SIGAP INFLASI dan data harga komoditas Kota Bogor.

SIGAP INFLASI (Sistem Informasi Gerakan Pengendalian Inflasi) adalah platform digital resmi Pemerintah Kota Bogor untuk memantau, menganalisis, dan menginformasikan perkembangan harga komoditas pangan utama serta laju inflasi daerah secara real-time. Platform ini mendukung Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam pengambilan kebijakan yang tepat sasaran.

SIGAP INFLASI dapat diakses oleh seluruh masyarakat umum untuk melihat informasi harga komoditas dan inflasi. Untuk fitur manajemen data dan input harga, hanya petugas yang terdaftar (admin dan petugas lapangan) yang memiliki akses melalui sistem login terpisah.

TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) adalah tim yang dibentuk oleh pemerintah daerah untuk mengoordinasikan upaya pengendalian inflasi di tingkat lokal. TPID bertugas memantau perkembangan harga, memetakan potensi tekanan inflasi, dan merumuskan rekomendasi kebijakan. SIGAP INFLASI berfungsi sebagai alat bantu utama TPID Kota Bogor dalam menjalankan tugas tersebut.

Data harga komoditas dikumpulkan langsung dari pasar-pasar tradisional di Kota Bogor melalui survei harian oleh petugas lapangan. Data ini kemudian diverifikasi dan diinput ke dalam sistem untuk memastikan akurasi dan keandalan informasi.

Data harga komoditas diperbarui setiap hari kerja (Senin-Sabtu) berdasarkan hasil survei pasar. Pembaruan dilakukan pada pagi hingga siang hari setelah petugas menyelesaikan pengumpulan data di lapangan. Anda dapat melihat tanggal update terakhir pada setiap halaman data.

SIGAP INFLASI memantau komoditas pangan strategis yang menjadi penyumbang utama inflasi, meliputi: beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, daging ayam, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, gula pasir, dan bahan pokok lainnya sesuai dengan daftar komoditas volatile food.

Status pada kartu komoditas mencerminkan perubahan harga dibandingkan hari sebelumnya: 1) 'Waspada' (merah) berarti harga naik lebih dari 1% — perlu perhatian karena kenaikan bisa memicu inflasi. 2) 'Stabil' (hijau) berarti harga tidak mengalami perubahan signifikan (naik/turun kurang dari 1%). Status ini dihitung otomatis berdasarkan rata-rata harga dari seluruh pasar yang disurvei.

Volatilitas mengukur seberapa besar fluktuasi harga suatu komoditas dalam periode tertentu. Pada halaman Komoditas, Anda dapat mengurutkan berdasarkan 'Volatilitas Tertinggi' untuk melihat komoditas yang harganya paling berfluktuasi, atau 'Volatilitas Terendah' untuk komoditas dengan harga paling stabil. Komoditas dengan volatilitas tinggi memerlukan perhatian lebih karena berpotensi memengaruhi inflasi.

Harga yang ditampilkan pada halaman Komoditas adalah harga rata-rata dari seluruh pasar yang disurvei di Kota Bogor pada tanggal tertentu. Misalnya, jika harga cabai merah di Pasar Bogor Rp50.000 dan di Pasar Anyar Rp48.000, maka harga rata-rata yang ditampilkan adalah Rp49.000/kg. Persentase perubahan dihitung dari selisih rata-rata hari ini dengan rata-rata hari sebelumnya.

Indikator inflasi ditampilkan dalam beberapa format: 1) YoY (Year on Year) menunjukkan perbandingan dengan periode yang sama tahun lalu; 2) MtM (Month to Month) menunjukkan perbandingan dengan bulan sebelumnya; 3) IHK (Indeks Harga Konsumen) sebagai dasar perhitungan inflasi. Status 'TERKENDALI' (hijau) menandakan inflasi masih dalam target, sementara 'WASPADA' (kuning/merah) menandakan perlu perhatian.

Komoditas volatile food adalah kelompok bahan pangan yang harganya cenderung fluktuatif dan berpotensi menjadi penyumbang utama inflasi. Kelompok ini meliputi beras, daging, telur, cabai, bawang, dan komoditas hortikultura lainnya. Pemerintah daerah memantau kelompok ini secara intensif untuk menjaga stabilitas harga.

Indeks Stabilitas adalah skor komposit (0–100%) yang mengukur kondisi ketahanan pangan dan harga secara menyeluruh. Skor ini dihitung dari 4 sub-indeks berbobot: (1) Pencapaian Target Inflasi (40%) — membandingkan inflasi aktual dengan target Bank Indonesia; (2) Volatilitas Harga Komoditas (25%) — mengukur fluktuasi harga berdasarkan Coefficient of Variation; (3) Ketahanan Pasokan Pangan (20%) — proporsi komoditas dengan status 'Aman'; (4) Integrasi Pasar (15%) — keseragaman harga antar pasar. Skor ≥80% = Optimal, 60–79% = Moderat, 40–59% = Waspada, <40% = Kritis.

IHK (Indeks Harga Konsumen) adalah ukuran statistik yang menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dari waktu ke waktu. IHK menjadi dasar utama dalam penghitungan laju inflasi. Jika IHK naik, artinya terjadi inflasi (kenaikan harga umum). IHK ditetapkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) dan diperbarui setiap bulan.

Ketiga istilah ini mengukur inflasi dalam periode berbeda: 1) YoY (Year on Year) — membandingkan harga bulan ini dengan bulan yang sama tahun lalu, memberikan gambaran tren jangka panjang. 2) MtM (Month to Month) — membandingkan harga bulan ini dengan bulan sebelumnya, menunjukkan perubahan jangka pendek. 3) YtD (Year to Date) — akumulasi inflasi dari Januari hingga bulan berjalan. YoY paling sering digunakan sebagai acuan kebijakan, sedangkan MtM berguna untuk deteksi dini tekanan inflasi.

Early Warning System (Sistem Peringatan Dini) adalah fitur yang memantau perubahan harga komoditas secara harian dan memberikan peringatan otomatis jika terjadi kenaikan atau penurunan harga yang signifikan. Sistem ini membantu TPID dan pengambil kebijakan untuk mengidentifikasi potensi masalah harga sejak dini dan mengambil langkah antisipasi sebelum berdampak luas.

Neraca Pangan Daerah adalah instrumen yang menggambarkan keseimbangan antara ketersediaan (supply) dan kebutuhan (demand) pangan di suatu wilayah. Neraca ini menghitung selisih antara total pasokan pangan yang tersedia dengan total kebutuhan konsumsi, untuk menentukan apakah stok pangan cukup, perlu diwaspadai, atau mengalami defisit.

Total Ketersediaan dihitung dari tiga komponen: 1) Stok Awal — sisa persediaan pangan dari periode sebelumnya. 2) Produksi Lokal — jumlah pangan yang diproduksi secara lokal di wilayah tersebut. 3) Pasokan Masuk — pangan yang didatangkan dari luar wilayah (impor antar daerah). Rumus: Total Ketersediaan = Stok Awal + Produksi Lokal + Pasokan Masuk.

Total Kebutuhan dihitung dari empat komponen: 1) Konsumsi Rumah Tangga — kebutuhan konsumsi langsung oleh masyarakat. 2) Konsumsi Industri — kebutuhan bahan baku industri pengolahan pangan. 3) Pasokan Keluar — pangan yang dikirim ke luar wilayah (ekspor antar daerah). 4) Susut/Terbuang — kehilangan pangan akibat kerusakan, penyusutan, atau limbah. Rumus: Total Kebutuhan = Konsumsi RT + Konsumsi Industri + Pasokan Keluar + Susut.

Status neraca pangan ditentukan berdasarkan saldo akhir (selisih ketersediaan dan kebutuhan): 1) 'Aman' (hijau) — ketersediaan melebihi kebutuhan dengan margin yang cukup, stok terjaga. 2) 'Waspada' (kuning) — ketersediaan masih mencukupi namun mendekati batas minimum, perlu pemantauan intensif. 3) 'Defisit' (merah) — kebutuhan melebihi ketersediaan, memerlukan intervensi segera seperti pengadaan pasokan darurat atau pembatasan distribusi keluar.

Estimasi Ketahanan Stok menunjukkan berapa lama (dalam hari) stok pangan yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan konsumsi jika tidak ada tambahan pasokan baru. Angka ini dihitung dengan membagi total ketersediaan dengan konsumsi per hari. Contoh: jika stok beras 700 ton dan konsumsi harian 100 ton/hari, maka estimasi ketahanan = 7 hari. Semakin tinggi angkanya, semakin aman posisi stok pangan.

Rasio Ketersediaan/Kebutuhan yang ditampilkan sebagai progress bar menunjukkan persentase kemampuan pasokan untuk memenuhi permintaan. Jika rasio ≥100% (hijau), artinya pasokan cukup. Jika 80–99% (kuning), pasokan mendekati batas minimal. Jika <80% (merah), terjadi kekurangan pasokan yang signifikan. Rasio ini membantu visualisasi cepat tanpa perlu membaca angka detail.

Ya, tersedia fitur unduh data di beberapa halaman: 1) Halaman Fluktuasi Harga — ekspor data harga dalam format PDF dan Excel dengan pilihan komoditas, pasar, dan rentang waktu. 2) Halaman Neraca Pangan — ekspor data neraca pangan dalam format CSV lengkap dengan detail komponen ketersediaan dan kebutuhan per komoditas.

Setiap halaman data dilengkapi dengan fitur pencarian dan filter. Anda dapat mengetikkan nama komoditas di kolom pencarian, memilih kategori melalui tab/chip filter, atau menggunakan dropdown untuk memilih pasar, status, dan periode waktu tertentu. Pada halaman Komoditas, Anda juga bisa mengurutkan berdasarkan volatilitas atau harga. Hasil akan langsung diperbarui sesuai kriteria yang dipilih.

Grafik tren menampilkan pergerakan total ketersediaan (hijau), total kebutuhan (merah), dan saldo (biru putus-putus) dari waktu ke waktu. Grafik ini membantu mengidentifikasi pola: apakah pasokan cenderung meningkat atau menurun, apakah ada gap yang melebar antara ketersediaan dan kebutuhan, serta kapan periode rawan biasanya terjadi. Anda bisa memfilter per komoditas untuk melihat tren spesifik.

Fitur 'Bandingkan Pasar' memungkinkan Anda membandingkan harga satu komoditas di semua pasar sekaligus dalam satu grafik. Saat tombol 'Bandingkan Pasar' diaktifkan, grafik akan menampilkan beberapa garis berwarna (multi-line chart) — masing-masing mewakili satu pasar. Ini membantu mengidentifikasi disparitas harga antar pasar, misalnya apakah harga cabai di Pasar Kebon Kembang lebih tinggi dari Pasar Bogor. Fitur ini berguna bagi TPID untuk mendeteksi ketidakseimbangan distribusi atau potensi spekulasi harga di pasar tertentu.

SMA (Simple Moving Average) adalah garis kuning putus-putus pada grafik yang menunjukkan rata-rata bergerak harga selama beberapa periode terakhir. SMA membantu menghaluskan fluktuasi harian dan memperlihatkan tren harga yang sesungguhnya. Periode SMA disesuaikan otomatis berdasarkan agregasi yang dipilih: 7 titik untuk harian, 4 titik untuk mingguan, dan 3 titik untuk bulanan. Jika harga berada di atas garis SMA, artinya harga cenderung naik dari tren rata-ratanya, dan sebaliknya. Grafik juga dilengkapi garis referensi merah (harga tertinggi) dan hijau (harga terendah) untuk memudahkan analisis.

SIGAP INFLASI menggunakan infrastruktur cloud yang aman dengan enkripsi data dan sistem autentikasi berlapis. Data yang ditampilkan untuk publik adalah data agregat yang tidak mengandung informasi sensitif. Sistem admin dilindungi dengan kredensial khusus dan log aktivitas.

Masih ada pertanyaan?

Hubungi Tim TPID Kota Bogor untuk informasi lebih lanjut.